Rabu, 21 Juli 2010

MENYONSONG PERINGATAN HARI KEMERDEKAAN

Beberapa hari lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan bangsa kita. Dari tahun 1908 pemimpin kita telah siaga, bangkit memperjuangkan martabat. Tahun 1928 dicapailah hasil yang sangat strategis yaitu tergalang persatuan bangsa. Dan berkat strategi itu, maka 17 Agustus 1945 kita tegakkan kemerdekaan. Setelah kita merdeka, tentu kita harus mengisi kemerdekaan itu dengan intensif. 

Sudahkah kita sebagai bangsa menikmati kemerdekaan itu ? Lalu siapa yang dapat menikmati kemerdekaan ? Menurut hemat kami, yang akan dapat menikmati kemerdekaan adalah mereka yang mempunyai kompetensi, mereka yang mempunyai metal baja dan kematangan spiritual yang handal.  

Berbicara kompetensi, tidak boleh tidak kita akan mengupas tuntas seluk beluk pendidikan. Sementara ini, yang kita sadari bersama adalah bahwa kompetensi itu diperoleh melalui proses pembelajaran yang intensif, semakin meningkat dan semakin berkembang. Aturannya jelas yaitu pendahulu berusaha dengan gigih tekun, dan hasil yang diperoleh kemudian diberikan atau diwariskan kepada generasi penerus.  Dalam hal ini Allah telah memberikan petunjuk dalam  QS  An- Nisaa, ayat 9 : 

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Kita tentu menyadari sepenuhnya bahwa sebagai pendahulu dari anak-anak kita, tentu sangat berkewajiban melatih, mendidik anak-anak kita agar tidak lemah kemampuan (kompetensi) mereka. Untuk mendapatkan kompetensi memadai, Allah memberi petunjuk agar kita terus menerus IQRA’. Konsep iqra’ menurut hemat kami berisi segala usaha, untuk mendapatkan kompetensi. Membaca, menela’ah, meneliti, mendengarkan, melatih, belajar, mengajar semua masuk dalam pemahaman konsep iqra’ itu.  Nah, untuk merealissasi, mengim- plementasikan konsep iqra’ itu kita melaksanakan prosesnya melalui rumah tangga, sekolah, dan masyarakat.

Salah satu alat yang dapat dijadikan penolong, sesuai dengan petunjuk Allah adalah shalat. “Shalat itu tiang agama. Shalat menjauhkan kita dari perbuatan mungkar. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu,” 

Kita meyakini bahwa itu semua memang benar. Apalagi jika kita sadar bahwa perintah shalat itu dilalui oleh Rasulullah dengan cara yang sangat istimewa, sangat khusus. Rasulullah isra’ dan mi’raj, menghadap sendiri kepada Allah. Tidak boleh tidak shalat adalah ibadah yang sangat penting.  Dan untuk merelisasi kebenarannya, kita harus lebih teliti. Salah satu renungan bahwa jika dikatakan shalat menjauhkan kita dari perbuatan mungkar, maka kita harus membuktikannya.  Mari kita telusuri dengan ikhlas. Shalat yang benar, tentu bukan hanya sekedar di tempat tertentu. Shalat yang benar justru terlihat dalam tampilan dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Artinya, sesudah shalat di tempat tertentu, kita harus selalu memelihara kesuciannya. Tidak berdusta, tidak membohongi orang, tepat janji, selalu bekerja dengan sepenuh hati hingga memberikan manfaat yang banyak dan seterusnya.

Jika demikian yang terjadi, pastilah akan terbukti bahwa shalat itu menjauhkan diri dari perbuatan mungkar.

Nah, ketika alat untuk mendapat pertolongan telah kita tekuni, maka mari kita motivasi diri ini untuk segera bebuat sesuatu untuk kepentingan bangsa ini. Kewajiban kitalah meneruskan cita-cita para pahlawan yang telah menyabung nyawa mendapatkan kemerdekaan. "Hidup atau mati", "Esa hilang dua terbilang", "Merdeka atau mati". Semboyan yang menggemuruh ketika para pejuang bergerilia, masuk hutan keluar hutan. Menyerang dan atau diserang. Strategi yang sangat ampuh waktu itu adalah PERSATUAN DAN KESATUAN. Para pejuang bertempur, rakyat menyiapkan nasi bungkus, memberikan informasi, menggunakan rumah sendiri untuk melin- dungi para pejuang. Tidak ada saling terkam. Tidak ada saling licik. 

Bersatu teguh. Indonesia bangsa besar. Tidak ada satu negarapun yang boleh mengacak.